Simpul
Rintik
hujan tampak mengelabuhi jalanan. Di dekat jendela, Kartini meratap dengan mata
yang penuh harap. Berjuta andai selalu muncul begitu saja dalam benaknya,
tatkala hujan datang dengan rintiknya. Sorot matanya menatap bocah – bocah
kecil yang asik menari dibawah guyuran hujan. Sungguh ia ingin disana,
bergabung bersama mereka, dan menceritakan sebuah kisah perjuangan.
Namun
ia baru tidak bisa apa – apa. Kartini sedang memilih menelan dalam – dalam harapannya. Menelan
semua perasaan – perasaan yang pernah ia tuliskan dalam surat – suratnya kepada
Margareth, sahabatnya. Kartini mengembuskan napas, dia kembali menengok surat
balasannya untuk Margareth yang belum tuntas ia tulis.
Jujur
saja, aku iri denganmu Margareth. Kamu bisa menghirup dunia luar dengan bebas,
sementara aku masih terpasung indah di rumah ini.
Kartini
meletakkan
penanya, ia kembali menatap rintikan hujan yang berangsur reda. Diresapinya
dalam – dalam sampai tidak sadar kalau ia tertidur.
ÿ
Kartini,
hey bangun!
Sebuah
seruan memanggilnya. Kartini membuka matanya, mengerjap sambil mencari siapa
sosok yang membangunkannya. Disana, di tepi kasur duduklah sosok wanita jawa
berkebaya khas putri keraton. Ia adalah sosok teman ilusi Kartini yang datang
dari masa lampau. Namanya Kartini, ia teman Kartini.
“Katanya
mau jadi Kartini milenial, kok ya masih gini – gini saja” Celetus Kartini ilusi
sambil meraih buku favoritnya, Habis Gelap Terbitlah Terang.
“Bapak
menentangku lagi Ni, kali ini aku yang kalah” ucap Kartini lirih.
“Terus?”
Kartini ilusi menaik turunkan alisnya sambil jemarinya sibuk membolak – balik
halaman.
“Katanya
aku perlu belajar banyak dari mbakyu – ku perihal jadi istri yang baik” Kartini
memandang keluar jendela, hujan sudah reda, kini berganti remang matahari sore.
“Biar
ku tebak” Kartini ilusi beranjak dari duduk manisnya, “Bukan bapakmu yang
menentangmu, tapi kamu yang coba menentang keputusan bapakmu yang akan
menikahkanmu sama anaknya pak camat to?”
Kartini
mengangguk, perihal perjodohan yang katanya sudah dari kecil. Perihal orang tua
yang kebelet anaknya dipersunting orang berada. Perihal wanita yang dianggap
masih harus bersujud pada laki – laki, walaupun masa sudah beralih ke masa dimana
kesetaraan gender di urutan paling atas.
“Lagi
– lagi anak pak camat, emang anaknya pak camat bagus to? Ganteng?” Kartini ilusi
mencoba menggoda Kartini yang sedang masam – masamnya.
Dia sepenuhnya menggeleng. Tentang bagaimana menggambarkan si anak pak camat,
ia tidak punya gambaran apapun. Sebab mereka belum pernah bertemu dan bertegur
sapa sekalipun. Sebab hari – hari yang dihabiskan Kartini adalah dengan para
tumpukan buku – buku yang memenuhi separuh kamarnya.
“Kamu
takut kalau nanti bila sudah menikah, kamu tidak bisa melihat dunia luar lagi?”
tebakan Kartini ilusi sepenuhnya benar. Persis dirinya di masa lalu, Kartini
yang sekarang turut merasakan apa itu yang dinamakan kebimbangan.
“Ada
cita – cita yang belum selesai aku wujudkan” begitu kata Kartini memandang
surat yang belum tuntas ia balas. Kartini ilusi pun turut memandangi surat –
surat dari Margareth.
“Aku
iri dengannya, dia bisa mendapatkan kebebasannya sendiri. Dia Margareth, teman
menulisku yang suka menjelahi pulau – pulau terpencil. Hidupnya bebas tak ada
simpul yang mengikatnya” Kartini tersenyum kepada semua surat Margareth yang ia
tunjukkan ke teman ilusinya.
“Apa
yang kamu inginkan?”
“Aku
ingin menari dengan aksaraku” Kartini tersenyum kepada Kartini ilusi, “Aku
ingin membuat nyata surat – suratku dan Margareth. aku ingin mendapatkan
kebebasanku dari simpul rumahku sendiri” lanjutnya sembari menggambarkan mimpi
– mimpinya di udara lepas.
“Kalau
gitu, dapatkan dirimu sendiri Ni” Kartini ilusi tersenyum, “Kartini, kita ada
dalam satu nama yang sama, searah, seaksara, dan senada. Keluarlah dari kamar
pingitmu Kartini, lanjutkan perjuanganku. Sebab aksara yang terus menari akan
mampu menghidupkan lentera yang dikasihi” Kartini ilusi menutup bukunya,
sekejap kemudian dia menghilang meninggalkan selarik aksara yang mengambang di
depan muka Kartini.
Habis
Gelap Terbitlah Terang.
ÿ
Kartini
terbangun dari tidurnya, hujan diluar betul – betul reda. Kartini kembali lagi
kedunianya, masih dikamar pingitnya. Dia tersenyum, menatap keluar jendela yang
tampak remang kemerahan.
“Kamu
betul, aku Kartini. Aku akan dapat kebebasanku sendiri” ucapnya kepada dirinya
sendiri.
“Aku
akan menyusulmu Margareth, akan ku lepaskan simpul ini” Dia meraih penanya,
melanjutkan suratnya yang belum usai.
Tapi
Margareth, aksaraku tidak boleh berhenti menari. Ia harus terus menari selama
aku masih hidup. Jadi, panggil aku Kartini Saraswati, Margareth. Seperti
namaku, seperti Kartini, seperti surat – suratku padamu, dan juga sepertimu,
aku akan keluar.
Akan
kutembus pintu kamar pingitku, dengan begitu aku baru bisa lari melihat dunia
luar. Aksaraku akan kubawa menari. Sebab wanita juga butuh kebebasan. Aku tidak
peduli perjodohan yang mengikat ini, biarlah aku menemukan cintaku sendiri.
Tidak ada lagi yang bisa menghentikan Kartini Saraswati, pun Bapakku, dia tidak
bisa.
Tunggu
aku Margareth.
Malam
itu, Kartini benar – benar memutuskan tali yang menyimpulnya. Dia pergi menari
bersama aksara – aksaranya. Esok hari, ia sudah tidak ditemukan di kamar
pingitnya. Bapaknya jelas mengamuk, tapi tidak bisa berbuat apa – apa saat
Kartini sudah menandaskan kata yang besar – besar ia tulis di jendela kamarnya.
Bahwa ia sekarang bebas.
Memang
kenapa bila aku perempuan? Aku juga punya segudang harapan, aku tidak mau jadi
perempuan bodoh. Akan ku kekang perjodohan yang menjerat tiap aksara, sebab
perasaan tidak sepantasnya dipaksakan. Aku Kartini Saraswati, yang haus aksara
dan butuh duniaku sendiri.
Tulisnya disecarik kertas buat anak Pak Camat yang katanya mau melamarnya. Tapi siapa yang akan menduga, bila ia adalah pemuda yang sama sepertinya. Ingin menari bersama tiap aksara yang ia tulis.

Comments
Post a Comment