Simpul

source pict: Dewi Rahayu

Rintik hujan tampak mengelabuhi jalanan. Di dekat jendela, Kartini meratap dengan mata yang penuh harap. Berjuta andai selalu muncul begitu saja dalam benaknya, tatkala hujan datang dengan rintiknya. Sorot matanya menatap bocah – bocah kecil yang asik menari dibawah guyuran hujan. Sungguh ia ingin disana, bergabung bersama mereka, dan menceritakan sebuah kisah perjuangan.

Namun ia baru tidak bisa apa – apa. Kartini sedang memilih menelan dalam – dalam harapannya. Menelan semua perasaan – perasaan yang pernah ia tuliskan dalam surat – suratnya kepada Margareth, sahabatnya. Kartini mengembuskan napas, dia kembali menengok surat balasannya untuk Margareth yang belum tuntas ia tulis.

Jujur saja, aku iri denganmu Margareth. Kamu bisa menghirup dunia luar dengan bebas, sementara aku masih terpasung indah di rumah ini.

Kartini meletakkan penanya, ia kembali menatap rintikan hujan yang berangsur reda. Diresapinya dalam – dalam sampai tidak sadar kalau ia tertidur.

ÿ

Kartini, hey bangun!

Sebuah seruan memanggilnya. Kartini membuka matanya, mengerjap sambil mencari siapa sosok yang membangunkannya. Disana, di tepi kasur duduklah sosok wanita jawa berkebaya khas putri keraton. Ia adalah sosok teman ilusi Kartini yang datang dari masa lampau. Namanya Kartini, ia teman Kartini.

“Katanya mau jadi Kartini milenial, kok ya masih gini – gini saja” Celetus Kartini ilusi sambil meraih buku favoritnya, Habis Gelap Terbitlah Terang.

“Bapak menentangku lagi Ni, kali ini aku yang kalah” ucap Kartini lirih.

“Terus?” Kartini ilusi menaik turunkan alisnya sambil jemarinya sibuk membolak – balik halaman.

“Katanya aku perlu belajar banyak dari mbakyu – ku perihal jadi istri yang baik” Kartini memandang keluar jendela, hujan sudah reda, kini berganti remang matahari sore.

“Biar ku tebak” Kartini ilusi beranjak dari duduk manisnya, “Bukan bapakmu yang menentangmu, tapi kamu yang coba menentang keputusan bapakmu yang akan menikahkanmu sama anaknya pak camat to?”

Kartini mengangguk, perihal perjodohan yang katanya sudah dari kecil. Perihal orang tua yang kebelet anaknya dipersunting orang berada. Perihal wanita yang dianggap masih harus bersujud pada laki – laki, walaupun masa sudah beralih ke masa dimana kesetaraan gender di urutan paling atas.

“Lagi – lagi anak pak camat, emang anaknya pak camat bagus to? Ganteng?” Kartini ilusi mencoba menggoda Kartini yang sedang masam – masamnya. Dia sepenuhnya menggeleng. Tentang bagaimana menggambarkan si anak pak camat, ia tidak punya gambaran apapun. Sebab mereka belum pernah bertemu dan bertegur sapa sekalipun. Sebab hari – hari yang dihabiskan Kartini adalah dengan para tumpukan buku – buku yang memenuhi separuh kamarnya.

“Kamu takut kalau nanti bila sudah menikah, kamu tidak bisa melihat dunia luar lagi?” tebakan Kartini ilusi sepenuhnya benar. Persis dirinya di masa lalu, Kartini yang sekarang turut merasakan apa itu yang dinamakan kebimbangan.

“Ada cita – cita yang belum selesai aku wujudkan” begitu kata Kartini memandang surat yang belum tuntas ia balas. Kartini ilusi pun turut memandangi surat – surat dari Margareth.

“Aku iri dengannya, dia bisa mendapatkan kebebasannya sendiri. Dia Margareth, teman menulisku yang suka menjelahi pulau – pulau terpencil. Hidupnya bebas tak ada simpul yang mengikatnya” Kartini tersenyum kepada semua surat Margareth yang ia tunjukkan ke teman ilusinya.

“Apa yang kamu inginkan?”

“Aku ingin menari dengan aksaraku” Kartini tersenyum kepada Kartini ilusi, “Aku ingin membuat nyata surat – suratku dan Margareth. aku ingin mendapatkan kebebasanku dari simpul rumahku sendiri” lanjutnya sembari menggambarkan mimpi – mimpinya di udara lepas.

“Kalau gitu, dapatkan dirimu sendiri Ni” Kartini ilusi tersenyum, “Kartini, kita ada dalam satu nama yang sama, searah, seaksara, dan senada. Keluarlah dari kamar pingitmu Kartini, lanjutkan perjuanganku. Sebab aksara yang terus menari akan mampu menghidupkan lentera yang dikasihi” Kartini ilusi menutup bukunya, sekejap kemudian dia menghilang meninggalkan selarik aksara yang mengambang di depan muka Kartini.

Habis Gelap Terbitlah Terang.

ÿ

Kartini terbangun dari tidurnya, hujan diluar betul – betul reda. Kartini kembali lagi kedunianya, masih dikamar pingitnya. Dia tersenyum, menatap keluar jendela yang tampak remang kemerahan.

“Kamu betul, aku Kartini. Aku akan dapat kebebasanku sendiri” ucapnya kepada dirinya sendiri.

“Aku akan menyusulmu Margareth, akan ku lepaskan simpul ini” Dia meraih penanya, melanjutkan suratnya yang belum usai.

Tapi Margareth, aksaraku tidak boleh berhenti menari. Ia harus terus menari selama aku masih hidup. Jadi, panggil aku Kartini Saraswati, Margareth. Seperti namaku, seperti Kartini, seperti surat – suratku padamu, dan juga sepertimu, aku akan keluar.

Akan kutembus pintu kamar pingitku, dengan begitu aku baru bisa lari melihat dunia luar. Aksaraku akan kubawa menari. Sebab wanita juga butuh kebebasan. Aku tidak peduli perjodohan yang mengikat ini, biarlah aku menemukan cintaku sendiri. Tidak ada lagi yang bisa menghentikan Kartini Saraswati, pun Bapakku, dia tidak bisa.

Tunggu aku Margareth.

Malam itu, Kartini benar – benar memutuskan tali yang menyimpulnya. Dia pergi menari bersama aksara – aksaranya. Esok hari, ia sudah tidak ditemukan di kamar pingitnya. Bapaknya jelas mengamuk, tapi tidak bisa berbuat apa – apa saat Kartini sudah menandaskan kata yang besar – besar ia tulis di jendela kamarnya. Bahwa ia sekarang bebas.

Memang kenapa bila aku perempuan? Aku juga punya segudang harapan, aku tidak mau jadi perempuan bodoh. Akan ku kekang perjodohan yang menjerat tiap aksara, sebab perasaan tidak sepantasnya dipaksakan. Aku Kartini Saraswati, yang haus aksara dan butuh duniaku sendiri.

Tulisnya disecarik kertas buat anak Pak Camat yang katanya mau melamarnya.  Tapi siapa yang akan menduga, bila ia adalah pemuda yang sama sepertinya. Ingin menari bersama tiap aksara yang ia tulis.

Comments

Popular posts from this blog

PBAK ENGLISH EDUCATION DEPARTMENT 2025

Ramadhan Talks and Treats (RTT) "Marriage Readiness: Tips for Ta'aruf"

Design Skill Workshop: “Digital Illustration: From Sketch to Screen in Design Skill Workshop 2025”